Kadang saya berpikir, ternyata yang paling sulit dikendalikan dalam hidup ini bukan perut, tapi pikiran. Pernah terpikir tidak, bahwa di saat kita mampu menahan lapar dan haus seharian, justru pikiran kita tetap “jajan” ke mana-mana tanpa izin? Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang bahkan lebih bising dari notifikasi HP yang tak pernah libur, kita sering lupa bahwa pikiran juga butuh istirahat. Padahal, kalau direnungkan pelan-pelan, tidak semua yang kita pikirkan itu perlu. Maka dari itu, rasanya tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa pikiran pun perlu “dipuasakan”, meskipun mungkin ada yang langsung berpikir, “loh, memang bisa ya?”
Bukan tanpa alasan saya sampai pada pemikiran ini, dan ini juga bukan sekadar hasil renungan di jam kosong sambil menatap langit-langit. Sebab, jika kita mau melihat lebih dekat, banyak dari kelelahan yang kita rasakan justru bukan karena aktivitas fisik, tapi karena pikiran yang tidak pernah berhenti bekerja. Coba saja diam sejenak dan perhatikan, berapa banyak hal yang sebenarnya belum tentu terjadi tapi sudah kita khawatirkan lebih dulu? Sering kali, pikiran kita dipenuhi asumsi, prasangka, dan overthinking yang datang tanpa diundang, seperti tamu yang betah tapi tidak tahu diri. Ditambah lagi, kebiasaan ini terus berulang hingga akhirnya membuat kita lelah sendiri. Jadi, rasanya cukup masuk akal kalau “puasa pikiran” menjadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan, meskipun awalnya terdengar agak nyeleneh.
Ambil contoh sederhana, saat kita menunggu balasan pesan yang tidak kunjung datang. Dalam situasi itu, pikiran bisa langsung berlari ke mana-mana, dari “mungkin dia sibuk” sampai “jangan-jangan saya salah ngomong,” bahkan kadang sampai membuat skenario film sendiri yang dramanya tidak kalah dari sinetron. Ibaratnya seperti membuka banyak tab di browser: semuanya terasa penting, padahal justru membuat perangkat (dan kepala) jadi lemot. Atau dalam keseharian, kita sering memikirkan hal-hal kecil secara berlebihan, yang pada akhirnya hanya menambah beban tanpa solusi. Dari sini, rasanya cukup jelas bahwa sebagian besar kelelahan kita bukan berasal dari kenyataan, tapi dari pikiran yang terlalu aktif—dan sedikit susah diajak kompromi.
Jadi, setelah semua ini, rasanya sulit untuk menyangkal bahwa pikiran juga perlu “berpuasa” dari hal-hal yang tidak perlu. Bukan berarti kita harus langsung menjadi manusia tanpa pikiran (itu malah bahaya), tapi setidaknya mulai belajar memilah mana yang perlu dipikirkan dan mana yang sebaiknya dilepaskan. Mungkin langkah kecil seperti tidak terlalu cepat berasumsi atau memberi jeda sebelum bereaksi sudah cukup untuk memulai. Pada akhirnya, kita kembali pada satu hal sederhana: tidak semua hal harus masuk ke dalam kepala kita. Dan kalau boleh disimpulkan dengan cara yang tidak terlalu serius—kadang, yang kita butuhkan bukan jawaban, tapi tombol “mute” untuk pikiran sendiri.



